Learner interaction and self-regulation in web-based professional development

2 03 2008

Interaksi Pebelajar & Pengaturan Diri dalam Pengembangan berbasis Web Profesional

Massa, Nicholas., Bell, Alexander.,Kehrhahn.,& Vallieres. (2005). Learner interaction and self-regulation in web-based professional development. American Society for Enginering Education. Retrieved August 3, 2007,from http://www.nebhe.org/info/pdf/programs/PHOTON2/Conference_Papers/ASEE_2005_Final_Learner.pdf

Latar Belakang

1.       Pebelajar dewasa yang mencari pembelajaran online untuk memenuhi kebutuhan dan keterampilan semakin meningkat. 2.       Namun dalam pembelajaran online, pebelajar sering merasa terisolasi dan tidak dapat berinteraksi dengan pebelajar lain untuk men-konstruk pengetahuan. Dan kurangnya interaksi dalam pembelajaran online  dapat menyebabkan siswa merasa tidak terikat dalam proses belajar yang pada akhirnya  mengurangi hasil belajarnya.3.       Metakognitif dapat meningkatkan interaksi dan hasil belajar, maka memberi pembelajaran yang fokus pada pengembangan pengetahuan metakognitif akan lebih mempersiapkan mereka untuk memilih strategi belajar  yang mempertinggi  interaksi ketika mereka terlibat dalam proses belajar. 4.       Self-regulation, tingkat dimana pebelajar secara aktif berpartisipasi dalam proses belajar mereka sendiri dan memanfaatkan metakognitif, motivasi, dan strategi adalah elemen penting dari kesuksesan belajar.

Masalah

Apa hubungan antara interaksi pebelajar (pebelajar-pebelajar, pebelajar-konten, pebelajar-pembelajar), pengaturan diri (self-regulation) dan hasil belajar dalam pembelajaran online?

Subjek

20 SMU, program Diploma dan  guru-guru teknologi. Mereka terbagi menjadi 2 kelompok dan terlibat selama 16 minggu  dalam pengembangan pembelajaran online profesional. Pembelajaran online ini adalah produk dari NSF (National Science Foundation) diberikan pada NEBHE (New England Board of Higher Education) dengan maksud meningkatkan jumlah pendidik yang disiapkan untuk mengajar Photonic di seluruh Amerika Serikat. Dan didesain untuk mendukung pengembangan pengetahuan dan keterampilan mereka di bidang photonic dan juga keterampilan dalam mendisain kurikulum untuk siswa.

Prosedur

Digunakan 5 sumber data dalam penelitian ini: 1.       Survey-survey demografi, sebarkan saat pembukaan workshop. Data demografi, dari 23 partisipan guru, hanya 15 partisipan yang mengembalikan set data lengkap.2.       Pre-post tests, disebarkan 60 item pertanyaan pilihan ganda pada saat awal dan akhir pembelajaran online. Skor rata-rata pada pre-post tests adalah 60, menggunakan t-tests.3.       Data teks diskusi, setiap partisipan diminta mengirim minimal 2 posting pada setiap topik diskusi, hands-on activities, dan pengembangan kurikulum yang terkumpul selama 16 minggu. Dari analisis data-data diskusi, ditemukan 6 indikator: linking, reflecting, analyzing, building, offering, dan engaging. Self-regulation skills teridentifikasi pada strategi belajar partisipan yang kemudian dikonstruk menjadi 3 (planning, monitoring, evaluating).4.       Dokumen-dokumen surat, dibagikan pada minggu ke 2, 9, 15. Partisipan diberi pertanyaan spesifik sehubungan dengan penetapan tujuan belajar, perencanaan, monitoring, dan evaluasi interaksi mereka,  juga dikumpulkan setting tujuan dari pengembangan kurikulum yang dilakukan. Reflective letters di-interpretasi untuk mendeskripsikan metakognisi dan self-regulation dari interaksi pebelajar. 5.       Kuesioner MSLQ (Motivated Strategies for Learning Questionnaire), disebarkan pada minggu ke 2 dan terakhir untuk memperoleh pengukuran dari self-regulation. MSLQ ada 42 item, menggunakan skala 7 poin. T-test digunakan untuk mengukur skor rata-rata dari skor total

Hasil

1.       Pre-post assesment dari konten pengetahuan. Hasil dari t-tests terlihat secara statistik  signifikan (t=-7.02, ρ<.001). Meskipun sebagian besar partisipan tidak memiliki latar belakang di bidang teknologi photonic,  hasil ini sangat memberi harapan. 2.       Threaded discussions.Pebelajar berinteraksi dalam pembelajaran berbasis web melalui diskusi thread (kontribusi pemikiran-pemikiran  tertulis secara a-sinkron, sedangkan pemikiran-pemikiran tersebut dapat berupa ide-ide, pertanyaan dan respon terhadap suatu topik seperti konten, kurikulum, aktifitas hands-on dan administrasi). Secara keseluruhan pebelajar men-posting 681 pesan-pesan selama 16 minggu: 291 konten, 256 kurikulum, 110 aktifitas hands-on, dan 24 adminitrasi). Interaksi dibedakan menjadi 5 kategori, pebelajar-semua pebelajar, pebelajar-pebelajar, pebelajar-pembelajar, pembelajar-individu pebelajar, pembelajar-semua pebelajar. 3.       Ada penurunan partisipasi yang disebabkan karena dalam semester terdapat liburan thanksgiving dan natal. Solusinya pengaturan jadwal semester perlu ditinjau ulang.4.       Interaksi pebelajar-pebelajar rendah karena mereka kurang saling mengenal. Perhatian lebih harus diberikan di awal pembelajaran untuk menjalin ikatan sosial pebelajar dengan dialog sosial.

Kesimpulan

Untuk meningkatkan interaksi pebelajar dalam pembelajaran online, perlu diadakan dialog sosial sehingga dapat mengikat hubungan para pebelajar sebagai usaha untuk menghilangkan penghalang  yang  dapat membatasi pebelajar dalam berdiskusi.

Komentar

Penelitian lebih lanjut tentang interaksi sosial pada pembelajaran online masih sangat diperlukan.


Actions

Information

One response

31 10 2008
Nelly TP'06

makasih bgt ibu dah menfasilitasi kami dengan membuat blog khusus TP
n materinya OK BGT…. (‘_’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: