Web-Based Learning

13 11 2008

web-bassed-learningWeb-Based Learning

solusi distance and individual learning

web-based learning|1

Web atau sering disebut dengan WWW yang merupakan kepanjangan dari World-Wide Web adalah sarana mutakhir untuk mengarungi cyberspace. Web merupakan pelayanan internet terdistribusi dengan konsep hypertext antar dokumen yang berkaitan dengan bahasa HTML (Hyper Text Mark Up Language) untuk format dokumen (Khoe Yao Tung,2000 ). Read the rest of this entry »





e-Journal

12 11 2008

e-journale-Journal

Solusi pengembangan ilmu

pengembangan dan pengelolaan ilmu|1

Masyarakat berbasis pengetahuan ditetapkan pemerintah sebagai misi kebijakan strategi nasional yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, kreatif, dan kompetitif dalam peradaban berbasis pengetahuan. Tahap implementasinya antara lain lewat penguasaan pengetahuan, peningkatan kemampuan pengambil keputusan untuk menyerap pengetahuan, menambah anggaran pendidikan, meningkatkan kurikulum pro-pengetahuan, dan membangun sistem birokrasi yang merangsang masyarakat berkreasi dan berinovasi. Read the rest of this entry »





MultiMedia: Dari Komputer ke Internet

11 11 2008

multimedia

Multimedia memungkinkan kita untuk melakukan multi tasking. Dalam satu waktu kita mengerjakan beberapa kegiatan sekaligus. Read the rest of this entry »





Social Interaction In Online Learning

22 08 2008

Interaksi Sosial dalam Pembelajaran Online

Dunia pendidikan dan pelatihan secara keseluruhan saat ini telah diperkaya dengan adanya media online atau internet. Hal ini tampak dengan bertambahnya jumlah online-learning yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Read the rest of this entry »





A qualitative exploration of the social interaction in an online learning

2 03 2008

Eksplorasi Kualitatif  pada Interaksi Sosial dalam Komunitas Pembelajaran Online

Wang, H. (2005). A qualitative exploration of the social interaction in an online learning community. International Journal of Technology in Teaching and Learning, 1(2), 79-88

Pembelajaran online telah berkembang dan meningkat di pendidikan sekolah dan pelatihan-pelatihan. Komunitas belajar online biasanya terdiri dari program tehnik, tugas-tugas pembelajaran, dan interaksi sosial diantara pebelajar. Sehingga menurut Carabajal et al, terdapat 3 dimensi dalam komunitas online yaitu, dimensi teknologi, tugas, dan sosial. Dimensi Tehnologi sebagai alat komunikasi yang memungkinkan transaksi pembelajaran dapat berlangsung. Dimensi Tugas-tugas terdiri dari konten, bahan, sumber, aktifitas-aktifitas yang digunakan dalam pembelajaran. Dimensi Sosial mengarah pada interaksi partisipan selama proses pembelajaran.

Komunikasi sosial merupakan komponen penting dalam aktifitas pendidikan, dan ada 2 faktor komunikasi dalam pembelajaran online yaitu faktor struktural (jaringan pertemanan yang sudah ada) dan faktor psikologis (gaya komunikasi individu). Haythronthwaite (1998) menggunakan aktifitas perkenalan face-to-face, efektif dalam menjalin hubungan dan perasaan komunitas. Bowman (2001) merekomendasikan pemasangan pebelajar pada awal kelas online sehingga pasangan tersebut dapat berkomunikasi dan belajar bersama. Day (2004) menyarankan peraturan tegas dalam teks pembukaan kelas sehingga pebelajar paham komitmen mereka akan pentingnya diskusi online. Woods dan Ebersole (2003) berdemonstrasikan menggunakan diskusi dengan pokok bahasan yang tidak spesifik, dapat menguatkan hubungan sosial yang positif. Mereka mengemas 4 diskusi personal antara lain : Autobiographies, Cybercafe, Devotionals, dan Prayer Request. 

Masih kurangnya studi yang mengembangkan interaksi sosial dalam pembelajaran online. sehingga Pembelajar harus menyediakan kesempatan yang lebih dalam wacana sosial emosional dan pembetukan jaringan diantara pebelajar sehingga sebuah penelitian menyarankan agar pembelajaran online didesain dengan mengeksplorasi perkembangan interaksi sosial dalam komunitas pembelajaran online.

Masalah

Bagaimana hubungan sosial dan afektif dikembangkan dalam komunitas online, Bagaimana partisipasi pebelajar dalam komunitas online dan Bagaimana interaksi sosial mempengaruhi pebelajar  dalam proses pembelajaran  online ?

Subjek

Populasi terdiri dari 16 pebelajar dewasa, 11 wanita dan 5 pria. Kemudian diambil sampel 3 orang berdasar  kriteria tingkat partisipasi belajar dan keterwakilan dari demografi kelompok.

Prosedur

Interview dilakukan dengan 3 partisipan yang dipilih secara individu di lokasi dan waktu tertentu.  Peneliti mewawancarai partisipan berdasar daftar pertanyaan terbuka. Pertanyaan yang diajukan memungkinkan partisipan untuk mengemukakan pegalaman, pemikiran, dan perasaan mereka tentang pengalaman belajar online mereka. Pertanyaan follow-up diimprovisasi peneliti selama proses wawancara. Masing-masing interview memakan waktu 90 menit dan direkam dalam tape recorder.

Analisis

Peneliti mentranskripsikan rekaman audio-tape dan mengkodekan data dengan referensi ke dalam tiga pertanyaan penelitian dengan tujuan untuk meringkas tema utama. Melalui review yang berulang-ulang, empat tema pokok dihubungkan dengan pertanyaan penelitian kemudian diringkas dan dilaporkan.

Temuan

Komunikasi online berbeda bentuknya dengan komunikasi di kelas. Partisipan dengan jelas menyatakan bahwa komunikasi face-to-face berbeda dengan komunikasi online. Menurut opini mereka.       Pembelajaran online memberikan kesempatan luas untuk berpartisipasi. Mereka bebas menjawab pertanyaan, tidak seperti di kelas yang terkadang ada rasa takut ataupun  malu.

Mereka lebih berkemauan mengungkapkan opini mereka karena mereka tidak berhadapan dengan orang lain, sehingga mereka tidak takut akan dipermalukan. Mereka tidak ada waktu memikirkan apa respon orang lain nantinya. Jadi mereka sangat all out dalam memberikan opini dalam diskusi online atau lebih kuat daripada pada komunikasi face-to-face.

Mereka lebih fleksibel dan bebas untuk mengkontrol belajar mereka.

Pada percakapan online terkadang tidak mudah untuk mengetik opini dengan cepat. Ketika opini muncul dan akan disampaikan ternyata topik percakapan telah berganti.

Pada komunikasi online mudah terjadi salah interpretasi terhadap apa yang ditulis seseorang, hal ini dikarenakan mereka tidak saling bertatap muka sehingga tidak mengerti apakah seseorang sedang bercanda atau marah (ekspresi wajah). Dalam komunikasi online mereka juga tidak mendengar nada suara, sehingga mereka tidak mengetahui apakah seseorang sedang sarkastik ataupun ironi. Sehingga mereka harus sangat hati-hati dalam memilih kata-kata dan menyusun kalimat.

Hubungan online yang baik berawal dengan menghargai orang lain dan memberi sumbangan pada komunitas. Ketika menghadapi situasi belajar baru, terutama ketika berbagi kesulitan, seperti tugas-tugas baru atau masalah teknik, pebelajar harus bekerja sama dan  saling membantu. Respon positif terhadap posting anggota komunitas akan meningkatkan rasa kebersamaan mereka dalam proses belajar. Perasaan negatif jarang terjadi pada komunitas online. Tiga partisipan memberi saran bagaimana menjadi anggota komunitas belajar yang baik : persiapan penuh untuk pembelajaran online, men-posting pesan-pesan pendek dan informatif, mendengar anggota lain dan menyumbangkan ide saat diskusi, menghindari komentar negatif, mendukung dan konstruktif kepada anggota lain.

Terdapat 3 tingkat partisipasi yang berbeda dalam interaksi online. Pebelajar yang sangat aktif, jarang aktif dan antara aktif dan tidak. Mereka yang introvert justru aktif dalam pembelajaran online. Buletin dan email adalah fasilitas yang sering digunakan untuk berkomunikasi. Kebanyakan mereka tidak ingin meneruskan hubungan mereka ke dunia nyata. Menurut salah satu partisipan karena sudah tergolong dewasa maka mereka sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga.

Interaksi sosial dapat menfasilitasi pembelajaran online dalam beberapa hal yang bervariasi. Interaksi sosial sangat bermanfaat dalam pembelajaran online. Selain dapat menghilangkan pembatas berupa jarak, juga dapat menciptakan suasana belajar dalam kebersamaan. Interaksi sosial sangat membantu proses belajar karena menambah kerangka dan konstruksi untuk kelompok. Menurut mereka, semakin kita mengenal pebelajar lain maka semakin kita dapat memahami maksud komentar-komentar yang dibuatnya.   

Kesimpulan

Dari temuan awal peneliti menemukan bahwa pebelajar online percaya bahwa komunikasi sosial memiliki beberapa sifat yang berbeda dengan komunikasi di kelas. Interaksi sosial membantu memecahkan kendala yang disebabkan oleh jarak dan rasa keterasingan. Interaksi sosial menyediakan dukungan dan menawarkan kerangka referensi bagi refleksi pebelajar, sehingga dapat membantu hasil dan proses belajar. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pembelajar harus memberikan perhatian lebih pada dimensi  ke-3 (teknologi, tugas, sosial) selama proses desain dan pembelajaran online, daripada menfokuskan hanya pada bahan ajar mata kuliah dan teknologinya saja.

Komentar

Artikel ini sangat bagus dan menambah wacana tentang interaksi sosial dalam pembelajaran online. Namun ada sebuah pemikiran lain yang terungkap, bahwa jumlah sampel pada penelitian ini kurang representatif dibanding jumlah populasi secara keseluruhan.





Learner interaction and self-regulation in web-based professional development

2 03 2008

Interaksi Pebelajar & Pengaturan Diri dalam Pengembangan berbasis Web Profesional

Massa, Nicholas., Bell, Alexander.,Kehrhahn.,& Vallieres. (2005). Learner interaction and self-regulation in web-based professional development. American Society for Enginering Education. Retrieved August 3, 2007,from http://www.nebhe.org/info/pdf/programs/PHOTON2/Conference_Papers/ASEE_2005_Final_Learner.pdf

Latar Belakang

1.       Pebelajar dewasa yang mencari pembelajaran online untuk memenuhi kebutuhan dan keterampilan semakin meningkat. 2.       Namun dalam pembelajaran online, pebelajar sering merasa terisolasi dan tidak dapat berinteraksi dengan pebelajar lain untuk men-konstruk pengetahuan. Dan kurangnya interaksi dalam pembelajaran online  dapat menyebabkan siswa merasa tidak terikat dalam proses belajar yang pada akhirnya  mengurangi hasil belajarnya.3.       Metakognitif dapat meningkatkan interaksi dan hasil belajar, maka memberi pembelajaran yang fokus pada pengembangan pengetahuan metakognitif akan lebih mempersiapkan mereka untuk memilih strategi belajar  yang mempertinggi  interaksi ketika mereka terlibat dalam proses belajar. 4.       Self-regulation, tingkat dimana pebelajar secara aktif berpartisipasi dalam proses belajar mereka sendiri dan memanfaatkan metakognitif, motivasi, dan strategi adalah elemen penting dari kesuksesan belajar.

Masalah

Apa hubungan antara interaksi pebelajar (pebelajar-pebelajar, pebelajar-konten, pebelajar-pembelajar), pengaturan diri (self-regulation) dan hasil belajar dalam pembelajaran online?

Subjek

20 SMU, program Diploma dan  guru-guru teknologi. Mereka terbagi menjadi 2 kelompok dan terlibat selama 16 minggu  dalam pengembangan pembelajaran online profesional. Pembelajaran online ini adalah produk dari NSF (National Science Foundation) diberikan pada NEBHE (New England Board of Higher Education) dengan maksud meningkatkan jumlah pendidik yang disiapkan untuk mengajar Photonic di seluruh Amerika Serikat. Dan didesain untuk mendukung pengembangan pengetahuan dan keterampilan mereka di bidang photonic dan juga keterampilan dalam mendisain kurikulum untuk siswa.

Prosedur

Digunakan 5 sumber data dalam penelitian ini: 1.       Survey-survey demografi, sebarkan saat pembukaan workshop. Data demografi, dari 23 partisipan guru, hanya 15 partisipan yang mengembalikan set data lengkap.2.       Pre-post tests, disebarkan 60 item pertanyaan pilihan ganda pada saat awal dan akhir pembelajaran online. Skor rata-rata pada pre-post tests adalah 60, menggunakan t-tests.3.       Data teks diskusi, setiap partisipan diminta mengirim minimal 2 posting pada setiap topik diskusi, hands-on activities, dan pengembangan kurikulum yang terkumpul selama 16 minggu. Dari analisis data-data diskusi, ditemukan 6 indikator: linking, reflecting, analyzing, building, offering, dan engaging. Self-regulation skills teridentifikasi pada strategi belajar partisipan yang kemudian dikonstruk menjadi 3 (planning, monitoring, evaluating).4.       Dokumen-dokumen surat, dibagikan pada minggu ke 2, 9, 15. Partisipan diberi pertanyaan spesifik sehubungan dengan penetapan tujuan belajar, perencanaan, monitoring, dan evaluasi interaksi mereka,  juga dikumpulkan setting tujuan dari pengembangan kurikulum yang dilakukan. Reflective letters di-interpretasi untuk mendeskripsikan metakognisi dan self-regulation dari interaksi pebelajar. 5.       Kuesioner MSLQ (Motivated Strategies for Learning Questionnaire), disebarkan pada minggu ke 2 dan terakhir untuk memperoleh pengukuran dari self-regulation. MSLQ ada 42 item, menggunakan skala 7 poin. T-test digunakan untuk mengukur skor rata-rata dari skor total

Hasil

1.       Pre-post assesment dari konten pengetahuan. Hasil dari t-tests terlihat secara statistik  signifikan (t=-7.02, ρ<.001). Meskipun sebagian besar partisipan tidak memiliki latar belakang di bidang teknologi photonic,  hasil ini sangat memberi harapan. 2.       Threaded discussions.Pebelajar berinteraksi dalam pembelajaran berbasis web melalui diskusi thread (kontribusi pemikiran-pemikiran  tertulis secara a-sinkron, sedangkan pemikiran-pemikiran tersebut dapat berupa ide-ide, pertanyaan dan respon terhadap suatu topik seperti konten, kurikulum, aktifitas hands-on dan administrasi). Secara keseluruhan pebelajar men-posting 681 pesan-pesan selama 16 minggu: 291 konten, 256 kurikulum, 110 aktifitas hands-on, dan 24 adminitrasi). Interaksi dibedakan menjadi 5 kategori, pebelajar-semua pebelajar, pebelajar-pebelajar, pebelajar-pembelajar, pembelajar-individu pebelajar, pembelajar-semua pebelajar. 3.       Ada penurunan partisipasi yang disebabkan karena dalam semester terdapat liburan thanksgiving dan natal. Solusinya pengaturan jadwal semester perlu ditinjau ulang.4.       Interaksi pebelajar-pebelajar rendah karena mereka kurang saling mengenal. Perhatian lebih harus diberikan di awal pembelajaran untuk menjalin ikatan sosial pebelajar dengan dialog sosial.

Kesimpulan

Untuk meningkatkan interaksi pebelajar dalam pembelajaran online, perlu diadakan dialog sosial sehingga dapat mengikat hubungan para pebelajar sebagai usaha untuk menghilangkan penghalang  yang  dapat membatasi pebelajar dalam berdiskusi.

Komentar

Penelitian lebih lanjut tentang interaksi sosial pada pembelajaran online masih sangat diperlukan.








%d bloggers like this: